GEISHA

4 12 2007

Dalam bahasa Jepang geisha berarti seniman, yaitu entertainer yang menghibur tamu dengan berbagai macam kesenian di kedai teh yang disebut Ochaya. Seni yang dikuasai geisha adalah kesenian-kesenian tradisional seperti menari, menyanyi dan memainkan alat musik seperti shamisen. Selain itu, geisha juga harus ahli dalam ikebana (seni merangkai bunga), memakai kimono, shuji (kaligarafi Jepang),  chanoyu (minum teh) dan menuangkan sake serta berbicara.  

Pada awalnya, semua geisha adalah laki-laki dan merupakan seniman profesional. Kemudian, geisha laki-laki mengalami kemunduran berganti geisha perempuan. Geisha perempuan mencapai masa-masa kejayaan pada abad 18 dan 19. Pada masa kejayaan itu, geisha menghibur di Ochaya dengan berbagai keahliannya dalam bidang seni dan menjadi teman bicara para tamu sambil menemani tamu minum teh atau minum sake.       

Tak semua orang dapat menjadi geisha. Hanya putri seorang geisha atau anak perempuan dari keluarga miskin yang dijual ke Okiya (rumah geisha) yang dapat menjadi geisha. Orang-orang yang tidak ada hubungan dengan Okiya tidak dapat menjadi geisha. Okiya membiayai geisha baik biaya hidup sehari-hari atau atau biaya pendidikan menjadi geisha. Pada saat berumur  15-20 tahun dan telah mencapai tingkatan tertentu dalam pendidikannya, gadis itu menjadi maiko (geisha magang) yang menemani geisha dalam setiap janji dan mempelajari bermacam hal sampai terbiasa. 

Di Jepang, Kyoto merupakan daerah yang menjadi basis geisha. Dua tempat yang paling bergengsi dan sekaligus distrik yang paling banyak geisha-nya adalah Gion dan Potocho. Kalau di Tokyo, geisha banyak ditemukan di Shinbashi, Asakusa dan Kagurazaka. Di Gion dan Potocho, geisha lebih dikenal dengan sebutan geiko. Pada akhir abad 20 tercatat ada 10 ribu geisha, padahal pada tahun 1920-an ada 80 ribu geisha.       

Geisha butuh waktu yang cukup lama untuk berdandan agar makeup-nya sempurna. Geisha berdandan sebelum memakai kimono agar kimono tidak kotor oleh makeup. Untuk itu, pertama-tama geisha mengoleskan sejenis lilin ke kulitnya, lalu mencampurkan bedak putih dengan air agar jadi pasta sehingga dapat dioleskan dengan kuas bambu. Pasta bedak putih itu akan dioleskan ke wajah, leher dan tengkuk. Pada tengkuk ada bagian yang tidak putih berbentuk huruf v atau w yang melambangkan sesuatu yang erotis. Setelah pasta bedak putih yang merupakan alas bedak selesai dioleskan, wajah, leher dan tengkuk disapukan dengan sepon untuk merapikan kelebihan pasta agar alas bedaknya sempurna. Kemudian daerah di sekitar mata dimerahkan dan alis mata dihitamkan. Dulu untuk menghitamkan alis mata digunakan arang kayu, sekarang sudah ada pinsil yang berfungsi untuk menghitamkan alis mata. Dengan kuas kecil bibir diolesi warna merah. Agar bibir yang merah itu terlihat mengkilap ditambahkan kristalisasi gula.  

Setelah geisha bekerja selama 3 tahun, geisha tersebut mulai mengurangi dandanannya. Alasanya, karena sekarang geisha telah dewasa dan dandanan yang sederhana dapat menampilkan kecantikan alami geisha tersebut. Geisha yang telah dewasa dan geisha yang berumur di atas 30 tahun hanya memakai bedak putih pada acara-acara tertentu. Geisha selalu memakai kimono. Maiko memakai kimono dengan obi yang mewah, sedang geisha dewasa memakai obi yang sederhana. Model kimono yang dipakai geisha tergantung musim dan acara yang dihadiri. Pada musim semi, obi menjadi hal sangat penting dan motifnya harus meriah. Pada musim panas, warna kimono harus terang dan motifnya berbeda dengan motih kimono di musim semi dan cendrung lebih tipis karena temperatur udara yang cukup tinggi. Pada musim gugur, geisha memakai kimono yang agak tebal karena temperatur udara mulai dingin. Dan pada musim dingin, geisha memakai mantel setelah memakai kimono karena temperatur udara sangat dingin. Umumnya kimono yang dipakai geisha terdiri dari 3 lapisan, yaitu 1 lapis kimono bagian luar dan dua lapis kimono bagian dalam. Geisha tak boleh memakai kimono yang sama setiap kali menghibur, karena hal ini dapat menurunkan derajat gesha tersebut.        

Bagi geisha warna merah adalah warna yang penting, karena warna merah melambangkan kecantikan dan kebahagiaan. Bagi laki-laki warna merah adalah warna yang erat kaitannya dengan erotis.  

Model Rambut 

Model rambut geisha mengalami perkembangan yang cukup pesat abad 17. Pada awalnya rambut geisha dibiarkan tergerai lepas, namun sejak model rambut dikembangkan oleh Shimada, seorang panata rambut,  ada juga model rambut yang diikat ke atas. Pada dasarnya ada 4 jenis model rambut yang dikembangkan Shimada, yaitu :

1. Taka Shimada (model rambut bersanggul tinggi)

2. Tsubushi  Shimada (model rambut bersanggul rata)

3. Uwata (model rambut bersanggul yang dihubungkan dengan kain katun berwarna)

4. Persik Merekah (model rambut yang menyerupai persik merekah yang biasanya dipakai oleh geisha magang (maiko))

Model rambut geisha biasanya dihiasi dengan sisir rambut mewah dan tusuk konde indah yang juga dapat dijadikan acuan untuk mengatahui status geisha. Geisha yang memakai sisir rambut yang mewah dan tusuk konde indah biasanya geisha yang populer dan terkenal. Hal ini berdasarkan pada kebiasaan perempuan yang berasal dari keluarga bangsawan atau dari keluarga kaya yang memakai sisir rambut mewah dan tusuk konde indah.      

Geisha dan Prostitusi 

Banyak orang asing yang bingung dengan pekerjaan atau tugas geisha yang sebenarnya. Geisha bukan pelacur dan juga bukan istri.Geisha menjual keahlian bukan tubuhnya. Geisha tidak dibayar untuk melakukan hubungan seks. Geisha hanya boleh punya hubungan khusus dengan laki-laki yang menjadi danna-nya (pelindung) yang menyokong biaya hidup sehari-harinya yang cukup besar. Dengan kata lain,  geisha hanya bisa menjadi setengah istri, yaitu istri-istri di malam hari. Geisha tidak menikah, tetapi bukan berarti dia ttidak boleh punya anak.   

Geisha dan Istri 

Ada perbedaan antara hubungan suami-istri dan laki-laki dengan geisha. Hubungan laki-laki dengan geisha tidak berdasarkan cinta, karena itu geisha tidak boleh mengganggu hubungan perkawinan yang sudah terjalin. Para istri biasanya mengetahui dan mengenal geisha suaminya. Pada acara-acara tertentu seperti Festival Obon dan Oshogatsu para istri bertemu dengan geisha suaminya. Terkadang geisha juga menghibur istri dan anak-anak danna-nya di kedai teh. Pada zaman dahulu, geisha mempertunjukkan kemampuannya dalam bidang seni pada hari pernikahan putri danna-nya. Zaman sekarang sudah tidak lagi, Namun, pada upacara pemakaman danna, geisha memegang peranan penting karena dialah yang melakukan persiapan untuk upacara kematian tersebut. Bagi keluarga danna bantuan ini sangat besar artinya dan mereka terima dengan tangan terbuka.  


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: